Panen Cabai 25 Kali dengan Metode Sungkup

Metode ini sederhana dan bertahan lama sehingga petani patut mencobanya untuk menurunkan ongkos dan mengamankan produksi.

Petani cabai sering menghadapi kendala, seperti penyakit cendawan, virus yang ditularkan hama thrips, tungau, dan kutu kebul. Untuk mengatasi kendala itu, ada inovasi budidaya dengan sentuhan teknologi sederhana yang mudah, murah, dan praktis, yaitu sungkup plastik.

Metode sungkup diklaim mampu menurunkan serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai sehingga petani bisa menikmati hasil panen yang lebih banyak. Salah satu petani yang sudah mencoba budidaya dengan metode sungkup ini adalah Gianto dari Banyumas, Jateng.

Panen Lebih Banyak

Gianto, petani muda yang bergabung dalam Kelompok Tani Ganda Arum, menanam cabai keriting hibrida F1 varietas Hai-Lux. Benih ini toleran terhadap virus kuning, patek, thrips, kutu, dan penyakit layu. Varietas tersebut mulai bisa dipanen sekitar 75-80 hari setelah pindah tanam dengan potensi hasil 23-25 ton/ha.

Biasanya, Gianto memanen cabai sebanyak 15 kali. “Dengan metode sungkup bisa 20 kali, bahkan sampai 25 kali,” katanya. Januari lalu, cabai yang ditanam Gianto dan kelompok taninya menghasilkan cabai rata-rata di atas 2 kg/batang. Ketinggian tanamannya juga terlihat berbeda. Tanpa sungkup, tanaman cabai hanya tumbuh sekitar satu meter, sedangkan dengan sungkup bisa mencapai 1,6 meter.

Di Banyumas, luas pertanaman cabai mencapai 150 ha dan umumnya ditanam pada Januari. Sekitar April, cabai mulai dipanen. Dengan penggunaan sungkup plastik ini, petani bisa panen hingga Agustus nanti.

“Dengan metode sungkup bisa 20 kali, bahkan sampai 25 kali.”

Prihasto Setyanto, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Kementan, melalui siaran pers mengatakan, cabai keriting tumbuh lebih subur dengan perlakuan sungkup plastik dibandingkan yang tanpa sungkup. “Cabai merah keriting tumbuh dengan subur, tidak terserang penyakit,” komentarnya.

Investasi

Biaya pembuatan sungkup plastik tergantung ketinggian sungkupnya. “Cabai keriting kita buat tinggi 240 cm, kalau cabai besar 180 cm,” terang Gianto. Modal untuk pemasangan pertama dengan sungkup ketinggian 240 cm sekitar Rp80 juta/ha. Sedangkan untuk yang tinggi 180 cm sekitar Rp70 juta/ha. Pada tahun kedua dan seterusnya, hanya perlu biaya penggantian atap plastik sekitar Rp10 jutaan. Rangkanya dibuat dari material besi beton setebal 10 mm. Dengan investasi tersebut, sungkup bisa bertahan hingga 10 tahunan.

Di samping versi Gianto, petani juga bisa mencoba metode sungkup dengan modal lebih miring. Mengutip dari laman resmi Dinas Pertanian Purbalingga, petani cukup berinvestasi sekitar Rp28 jutaan. Modifikasinya pada material penyangga dengan tali majun. Pemasangan plastik dilakukan dengan cara menjahit atau mensteples.

Dengan jarak tanam 60 cm atau double track, populasi per hektar sekitar 18.130 tanaman. Jadi, bermodal Rp28.706.000, satu tanaman butuh biaya Rp1.583. Sungkup plastik dipasang saat tanaman cabai berumur 75 hari setelah tanam (HST).

Pria asli Wonogiri tersebut yakin, “Dengan menerapkan metode sungkup, usaha hortikultura saya pasti berhasil.”  Setelah cabai, ia juga berencana menanam bawang, tomat, dan sayuran lainnya.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 288 yang terbit Juni 2018. Atau, klik di : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

http://agrina-online.com/CabaiSungkup

Advertisements

Konferensi Kakao Dunia Janji Atasi Kemiskinan Petani

Kakao dunia berlimpah, produsen diminta membatasi produksi.

Konferensi Kakao Dunia keempat di Berlin, Jerman baru saja usai. Di tengah hiruk-pikuk konferensi, kegetiran hidup petani kakao di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan menjadi isu utama yang mendapat sorotan. Peserta konferensi yang berjumlah hampir 1.500 orang dari 65 negara berjanji mengatasi kemiskinan petani tersebut.

Para peserta mewakili semua pemangku kepentingan kakao. Yakni, pemerintah negara produsen, pemerintah negara konsumen, petani, pedagang, pabrik, lembaga penelitian, organisasi masyarakat sipil dan konsumen, serta serikat pekerja. Riswanto, petani penyuluh kakao dari Kabupaten Lampung Timur, Lampung menjadi salah satu peserta yang diundang International Cocoa Organization (ICCO).

Deklarasi

Riswanto menjelaskan, ICCO merupakan organisasi kakao antarpemerintah yang bertujuan menciptakan industri kakao berkelanjutan dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Organisasi yang berdiri pada 1973 ini beranggotakan 51 negara, termasuk Indonesia yang bergabung pada 2012.

“Empat isu utama yang mengemuka di konferensi itu yakni kemiskinan petani, perambahan hutan, pekerja anak, dan peningkatan peran wanita tani. Dari keempat isu itu, soal kemiskinan petani yang menjadi perhatian utama,” ujarnya ketika ditemui AGRINA.

ICCO mengakui, upaya pemberdayaan petani yang dilakukan secara berkelanjutan selama bertahun-tahun dan tersebar di berbagai negara produsen kakao dunia, gagal memacu peningkatan kesejahteraan petani. Karena itu para pemangku kepentingan mengeluarkan deklarasi untuk mengkoordinasikan upaya-upaya yang lebih baik guna menghapus eksploitasi petani dan degradasi lingkungan.

Deklarasi mengikuti apa yang disebut ICCO sebagai “proliferasi inisiatif yang tidak terkoordinasi” dari perusahaan dan pemerintah. Proliferasi ini bertujuan meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan produktivitas kebun.

Upaya itu juga didorong kekhawatiran tentang menurunnya pasokan kakao dunia di masa depan. Perusahaan cokelat dan perusahaan dagang pun berjanji menggelontorkan bantuan yang lebih besar besar untuk pengadaan bibit unggul dan melatih petani sebagai upaya meningkatkan pendapatan mereka.

“Empat isu utama yang mengemuka di konferensi itu yakni kemiskinan petani, perambahan hutan, pekerja anak, dan peningkatan peran wanita tani. Dari keempat isu itu, soal kemiskinan petani yang menjadi perhatian utama.”

Menurut Riswanto, dibanding petani kakao di Pantai Gading dan Ghana, petani Indonesia lebih baik. Sebab di kedua negara tersebut harga kakao diatur pemerintah yang justru lebih menguntungkan importir. “Harusnya dengan diatur pemerintah, harga kakao lebih mahal. Tetapi yang terjadi di Pantai Gading malah lebih murah. Saat sekarang harga kakao di tingkat petani di Lampung Rp39 ribu-40 ribu/kg maka di Pantai Gading hanya Rp17 ribu/kg,” jelasnya.

Namun, bukan berarti petani Indonesia lebih sejahtera. “Tidak juga karena produktivitas kebun rendah dan luasan kebun relatif kecil. Belum lagi, fluktuasi harga yang tajam, serangan penyakit, dan kondisi kakao yang sudah tua sehingga pendapatan petani kita juga rendah,” jelasnya.

Dengan luas area mencapai 1,2 juta ha, Indonesia hanya mampu menghasilkan 380 ribu ton biji kakao per tahun dengan produktivitas rata-rata 0,4 ton/ha/tahun. Karena rendahnya produksi, ICCO menurunkan peringkat Indonesia yang sebelumnya sebagai produsen kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana, menjadi di bawah Equador.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 288 yang terbit Juni 2018. Atau, klik di : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

http://www.agrina-online.com/KonferensiKakaoDunia

Mendapuk Lampung Jadi Lumbung Udang

Analisis kekuatan dan potensi bermanfaat membangun industri udang berkelanjutan.

Segenap pemangku kepentingan yang difasilitasi Komite Ekonomi dan Industri (KEIN) Kelompok Kerja (Pokja) Industri Maritim dan Peternakan (IPMP) sepakat mengembalikan kejayaan udang di Provinsi Lampung seperti era 90’an. Namun, terdapat sejumlah kendala dan hambatan pengembangan budidaya udang yang perlu diurai. Itulah benang merah yang bisa dipetik dari Rapat Koordinasi (Rakor) Budidaya Udang Nasional 2018 di Bandarlampung beberapa waktu yang lalu.

Infrastruktur Tambak

Muhammad Nadjikh, Ketua Pokja IPMP mengatakan, pihaknya ingin menjadikan Provinsi Lampung sebagai lumbung udang nasional sesuai arahan presiden untuk menaikkan ekspor udang. “Target itu sebagai upaya menindaklanjuti perintah Presiden untuk meningkatkan devisa negara melalui peningkatan ekspor nasional dari komoditas khusus udang,” ujarnya pada Rakor yang membahas Pengembangan Infrastruktur dan Kepastian Hukum itu.

Sebelumnya, Indonesia menempati peringkat kedua top five shrimp exporters dan Lampung merupakan produsen udang terbesar nasional. Namun kini menjadi peringkat ke empat di bawah India, Vietnam, dan Ekuador. Menurut Nadjikh, hal ini mendorong pemerintah kembali menjadikan Indonesia sebagai pengekspor utama udang.

“Target itu sebagai upaya menindaklanjuti perintah Presiden untuk meningkatkan devisa negara melalui peningkatan ekspor nasional dari komoditas khusus udang.”

Lalu Lampung sendiri sudah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi udang Indonesia. Dua perusahaan raksasa dalam budidaya udang, yakni PT Dipasena Citra Darmaja, seluas 16 ribu ha dan PT Central Proteina Prima seluas 17.400 ha yang beroperasi di kawasan Tulang Bawang dan Lampung Timur.

Selain itu, ratusan pembudidaya udang sistem intensif di wilayah Pesisir Lampung Selatan, Pesawaran, Tanggamus Lampung Barat bahkan sampai di perbatasan Provinsi Bengkulu juga memberikan kontribusi besar. “Belum lagi ribuan pembudidaya udang semi intensif dan tradisional di sepanjang pesisir Lampung Timur dan Lampung Selatan,” katanya.

Berdasarkan pantauan IPMP, lanjut Nadjikh, ada sejumlah permasalahan udang di Lampung, diantaranya soal infrastruktur. “Jalan menuju kawasan tambak sangat tidak layak. Sarana irigasi sangat tidak mendukung usaha budidaya tambak udang,” ungkap dia. Lalu, pasokan energi listrik PLN tidak menjangkau  wilayah usaha tambak rakyat. Belum lagi dukungan permodalan dari perbankan sangat minim akibat dinilai risiko tinggi. Sementara, persyaratan legal formal kredit belum banyak dipahami petambak.

Kemudian, persoalan dukungan teknis dan managerial, kebijakan perundangan tidak kondusif untuk memenuhi kebutuhan penyuluhan, SDM penyuluh perikanan terbatas, dan anggaran untuk penyuluhan juga amat terbatas. Selanjutnya, persoalan data yang tidak jelas.

Dinas perikanan daerah tidak memiliki kewenangan pengelolaan data akibat kebijakan data tunggal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Akibat ketiadaan data daerah yang akurat maka daerah tidak bisa membuat perencanaan dan perumusan kebijakan.

Kecuali itu yang tak kalah vitalnya menghambat pengembangan investasi udang di Lampung adalah perizinan masih sulit dan berbiaya tinggi. Termasuk, tidak adanya jaminan kepastian dan perlindungan usaha akibat zonasi dan rencana umum tata ruang (RUTR) belum tersedia dan lemahnya koordinasi akibat masih kuatnya ego sektoral.

“Jalan menuju kawasan tambak sangat tidak layak. Sarana irigasi sangat tidak mendukung usaha budidaya tambak udang.”

Terkait dengan masalah infrastruktur, Nadjikh menggarisbawahi, perlu memperkuat koordinasi antarinstansi untuk penyediaan sarana dan infrastruktur pendukung. Seperti, jalan untuk memperlancar transportasi logistik, saluran irigasi atau pemeliharaan dan pengaturan inletoutlet, dan penyediaan listrik PLN. Sebab jika menggunakan genset maka akan menambah biaya produksi sekitar 8% dibandingkan listrik PLN.

Kendala Lain

Taufik Hidayat, Pelaksana Tugas Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setprov Lampung tidak menampik sejumlah persoalan yang membelit budidaya udang di daerahnya. Bahkan Taufik mengakui, ada kendala lain yang juga diinventarisir Pemprov Lampung. Seperti, belum optimalnya pengelolaan perairan; tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan laut yang parah; pencemaran air akibat limbah industri, rumah sakit, rumah tangga, serta rumah makan menyebabkan kondisi perairan di sekitar Teluk Lampung tercemar.

Lalu, belum optimalnya pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang ada di bagian timur Sumatera yang berhadapan langsung dengan Laut Jawa meliputi tiga Kabupaten:  Tulang Bawang,  Lampung Timur dan Lampung Selatan. Di sini terjadi alih fungsi green belt (sabuk hijau) dan lahan pertanian menjadi tambak yang tidak terkendali. Di samping, lemahnya kemitraan petambak rakyat dengan petambak bermodal besar atau perusahaan; kerusakan terumbu karang dan padang lamun serta sedimentasi tinggi (pantai dan muara sungai).

Sementara di Pesisir Lampung Selatan, Bandarlampung, dan Pesawaran beroperasi alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan semisal trawl atau menggunakan bahan peledak; degradasi habitat mangrove, terumbu karang, padang lamun, pantai berpasir dan hutan pantai; pencemaran limbah cair dan padat serta rawan longsor dan banjir.

Sebagai solusi, jelas Taufik, pihaknya sudah menyusun arah kebijakan sektor perikanan dan kelautan berupa peningkatan produksi perikanan tangkap dan budidaya; peningkatan nilai tambah, daya saing, industri hilir, pemasaran dan ekspor hasil perikanan, mendorong pengembangan wisata bahari di Lampung berbasis nelayan tradisional.

Dengan arah kebijakan tersebut, Taufik optimis Lampung akan kembali mengangkat sektor kelautan dan perikanan khususnya budidaya udang. Zona yang ditetapkan sebagai budidaya laut adalah Pesawaran, Lampung Selatan, Tanggamus, Bandarlampung dan Lampung Timur.

Ia mengharapkan para pemangku kepentingan berkomitmen mengatasi kendala-kendala yang terjadi di sentra produksi udang Lampung. Sehingga, ke depan mampu berkontribusi pada peningkatan pendapatan per kapita masyarakat Lampung. “Pemprov akan terus mendorong produksi udang Lampung agar mampu menyumbang 40% produksi nasional,” tambahnya.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 288 yang terbit Juni 2018. Atau, klik di : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

http://www.agrina-online.com/LampungLumbungUdang

Memanen Untung dari Jagung Biotek

Produksi jagung meningkat, serangan hama teratasi dengan mudah.

Panas terik tidak menghalangi antusiasme Eulogio ‘Totie’ Cabilles menyambut rombongan peserta The 12th PAN-Asia Farmers Exchange Program 2018 yang berkunjung ke ladangnya. Petani di Filipina ini menjelaskan secara detail manfaat yang yang ia rasakan setelah menanam jagung bioteknologi (biotek) alias Genetically Modified Organism (GMO). Seperti apa penuturannya?

Kendala Penggerek

Totie, begitu ia disapa, memulai budidaya jagung sejak 1970 dengan pola tanam jagung – jagung – padi. Lahannya terletak di Barangay Matarannoc, San Manuel, Tarlac, sekitar 171 dari Manila, ibukota Filipina. Selama menanam jagung, ungkap Totie, rata-rata produksinya sangat rendah. sekitar 2-3 ton per ha.

Di samping itu, hama penggerek batang jagung juga menjadi kendala utama. Petani kerap menangis karena tanamannya ludes dilahap penggerek. “Karena jagung nggak tumbuh, petani berhenti menanam jagung karena serangan penggerek. Mereka nggak memiliki kebanggaan terhadap hasil panen,” kisah pria berumur 53 tahun ini pada para tamu yang berasal dari Australia, Indonesia, Malaysia, Taiwan, Vietnam, Korea Selatan, Thailand, Singapura, Filipina, India, dan Pakistan.

“Karena jagung nggak tumbuh, petani berhenti menanam jagung karena serangan penggerek. Mereka nggak memiliki kebanggaan terhadap hasil panen.”

Tidak seperti di Indonesia yang hanya menghilangkan hasil 10%, serangan penggerek batang jagung di Filipina memang sangat parah. Sehektar tanaman bisa ludes semua dan gagal panen karena hama bernama ilmiah Ostrinia furnacalis itu. Wajar jika petani memilih beralih komoditas.

“Karena penggerek batang, banyak petani yang kehilangan pendapatan jadi banyak juga koperasi yang mati,” ulas dia. Soalnya, modal bertanam jagung dipinjam dari koperasi. Gagal panen menyebabkan kredit macet sehingga perputaran modal di koperasi pun tidak berjalan.

Jagung Biotek

Titik terang mulai Totie rasakan ketika mengadopsi benih jagung biotek pada 2006. Saat itu pun menanam jagung biotek yang toleran hama penggerek atau disebut jagung Bt (Bacillus thuringiensis).“Ketika perusahaan memperkenalkan jagung Bt, produksi kami naik 5 kali lebih tinggi. Satu hektar bisa memproduksi 10-12 ton/ha. Sangat tinggi,” ungkap pria yang menanam benih besutan Syngenta ini semringah.

“Ketika perusahaan memperkenalkan jagung Bt, produksi kami naik 5 kali lebih tinggi. Satu hektar bisa memproduksi 10-12 ton/ha. Sangat tinggi.”

Menanam benih jagung Bt, hama penggerek batang tidak lagi menjadi masalah. “Sekarang dengan (benih) Bt, jagung nggak terkena penggerek batang. Kami bisa mengatasinya,” ungkap salah satu perintis tanaman jagung biotek di wilayahnya.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 288 yang terbit Juni 2018. Atau, klik di : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

http://www.agrina-online.com/UntungBiotek

Jangan Ragu Adopsi Bioteknologi!

Menggunakan biotek, Filipina mampu mencukupi kebutuhan jagung sendiri sekitar 98%-101%.

Penggunaan bioteknologi (biotek) atau Genetically Modified Organism (GMO) masih penuh pro dan kontra. Meski begitu, tidak dapat dimungkiri peranan bioteknologi sangat besar. Tidak hanya dalam penyediaan pangan dan kesejahteraan petani tetapi juga keberlanjutan lingkungan serta keanekaragaman.

Setelah 22 tahun berjalan, menurut Sonny Tababa, Biotechnology Affairs Director CropLife Asia, banyak penelitian membuktikan tanaman biotek memperbaiki produktivitas, termasuk meningkatkan hasil panen hingga meningkatkan keanekaragaman hayati. “Karena ketika petani memperbaiki hasil panennya, mereka nggak perlu membuka area baru untuk menanam. Karena itu kenapa keberlanjutan sangat terukur,” ucap Sonny. Tanaman biotek, seperti jagung biotek, mengurangi penggunaan pestisida dan memudahkan petani mengendalikan gulma rumput.

Perkembangan Biotek

Menurut Gabriel Romero, pertambahan populasi dua kali lipat merupakan tanggung jawab semua pihak untuk memproduksi pangan. “Kita lihat lahan tidak meningkat tapi malah menurun dan jumlah yang harus diberi makan secara global juga meningkat. Ini tantangan besar kita semua untuk membuat petani lebih produktif,” kata Chair CLP Seed Committee Monsanto Filipina itu sambil menjelaskan produksi pangan itu akan tercukupi menggunakan teknologi pertanian maju dan teknologi biotek.

“Rekayasa genetik sangat ampuh mentransfer spesifik gen dari satu spesies ke lainnya. Karena di pembenihan normal, kita punya kendala ketersediaan gen dalam transmisi gen.”

Biotek, sambung Gabriel, bukanlah ilmu baru tetapi perluasan teknologi pembenihan tanaman. Petani sejak abad 18 sudah melakukan teknologi pembenihan konvensional dengan cara mengumpulkan dan mengoleksi benih yang baik. Pada 1940, peneliti menemukan ada faktor gen di dalam tanaman yang bisa dimanipulasi untuk memproduksi varietas unggul. “Hingga pada 1990, kita sudah tahu bahwa gen terbentuk dari DNA. Peneliti sudah memanipulasi DNA yang memproduksi varietas baru tanaman. Saat ini kita sebut biotek atau GMO,” paparnya.

Gabriel menjabarkan, teknologi DNA sangat penting untuk mengetahui karakter gen atau plasma nutfah. “Rekayasa genetik sangat ampuh mentransfer spesifik gen dari satu spesies ke lainnya. Karena di pembenihan normal, kita punya kendala ketersediaan gen dalam transmisi gen,” ulasnya.

Apa bedanya antara pembenihan tanaman tradisional dengan tanaman biotek? Pada pembenihan tradisional, Gabriel menelaskan, sifat tanaman yang tidak diinginkan bisa terbawa dalam hasil persilangan. “Tetapi di tanaman biotek, kita hanya mentransfer gen yang diinginkan. Kita nggak perlu melakukan persilangan seksual. Yang kita lakukan adalah mengisolasi lalu mengkloningnya dan menggunakan vektor, kita mentransfer gen ke tanaman kedua. Itu kenapa tanaman biotek lebih mutakhir,” urainya.

Biotek di Filipina

Hampir selama 100 tahun, terang Gabriel, petani jagung mengalami kehilangan hasil karena serangan penggerek batang. Terciptalah jagung Bt yaitu jagung biotek yang sudah disisipkan gen bakteri Bacillus thuringiensis. Gen bakteri ini sangat efektif melawan serangan penggerek.

“Sejak kami mulai menggunakan jagung biotek, panen jagung meningkat dalam waktu singkat. Ini menakjubkan karena nggak ada peningkatan lahan.”

Sebelum 2003, lanjutnya, petani Filipina hanya menggunakan jagung hibrida atau konvensional dan produksinya hampir menurun. “Sejak kami mulai menggunakan jagung biotek, panen jagung meningkat dalam waktu singkat. Ini menakjubkan karena nggak ada peningkatan lahan,” ucapnya senang karena penggunaan lahan jadi lebih produktif.

Filipina pun mampu mencukupi kebutuhan jagung sendiri sekitar 98%-101%. Industri peternakan juga sangat senang karena suplai jagung tersedia. Pada 2015 produksi jagung Filipina mendekati angka 8 juta ton. Melesat hampir dua kali lipat dari produksi jagung pada 2002 yang belum mengadopsi jagung biotek. Kini, imbuh Gabriel, negaranya juga sudah mengembangkan pepaya biotek. “Saat ini percobaannya sedang dalam proses pengawasan,” tegasnya.

Segfredo Serrano bangga negaranya telah menerapkan bioteknologi sejak awal. Undersecretary for Policy, Planning, Regulation and R&D, Phil. Department of Agriculture Filipina itu menjelaskan, industri jagung dan pakan di Filipina pun meningkat karena adaptasi teknologi. Apalagi, budidaya pertanian menghadapi kendala perubahan iklim global yang bisa diatasi dengan aplikasi teknologi. “Kami ingin bisa menghadapi risiko dengan teknologi, ilmu, dan terukur,” imbuh Segfredo.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 288 yang terbit Juni 2018. Atau, klik di : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/item/1774/agrina-edition-jan-2018, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

http://www.agrina-online.com/JagungBiotek

Inspirasi dan Peluang Agribisnis Indonesia

Create your website at WordPress.com
Get started