Senang Bertanam Jagung

Areal tanam tidak optimal karena terkendala kesulitan benih jagung hibrida.

Harga jagung yang cukup membaik membuat petani di Provinsi Lampung terus menanam jagung di musim kemarau. Hal inilah yang dilakukan Sardo, Ketua Kelompok Tani Margo Makmur dari Desa Rejomulyo, Kec. Jatiagung, Kab. Lampung Selatan. Ia mengatakan, sebagian besar petani di desannya melanjutkan penanaman jagung pada musim gadu kemarau. “Masih ada hujan walau agak jarang maka kami kembali menanam jagung daripada lahan terlantar tidak menghasilkan,” ujarnya.

Selain cuaca yang mendukung, tingginya animo petani menanam jagung karena harga jagung pada musim panen rendeng (hujan) sebelumnya cukup bagus. “Rata-rata harga jagung saat musim panen puncak lalu Rp2.200–Rp2.400 per kg. Dan biasanya pada musim panen gadu harganya di atas Rp3.000/kg sehingga walau produksinya turun, petani masih untung,” lanjut pria yang sudah budidaya jagung hampir seperempat abad ini kepada AGRINA.

Banyak Pilihan

Kuswanto, petani jagung di Desa Trirahayu, Kec. Negerikaton, Kab. Pesawaran juga mengakui, meski musim gadu dan hujan mulai kurang tetapi masih banyak petani yang menanam jagung. “Memang harga singkong sudah membaik tapi petani masih senang jagung. Sebab saat harga singkong anjlok, petani yang rugi banyak sehingga agak trauma untuk kembali menanam singkong,” ujar Kus, panggilan akrabnya.

Apalagi, menanam jagung di musim gadu memiliki banyak pilihan. Pertama, menanam jagung hibrida sebagai jagung pakan. Biasanya harga jual pakan pada musim gadu jauh lebih tinggi ketimbang musim rendeng.

Tapi jika hujan jarang dan pertumbuhan tongkol tidak begitu optimal, batang jagung bersama tongkolnya yang masih muda ditawarkan untuk dijual menjadi pakan sapi. Di samping itu, petani juga bisa menanam jagung manis yang biasnaya hasilnya bagus dan usia panen juga lebih pendek, sekitar 70 hari.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 292 yang terbit Oktober 2018. Atau, klik : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/browse?search=agrina, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

Advertisements

Ganesh Pamugar Satyagraha, Seni Mengelola Manusia

Semakin tinggi kepemimpinan, makin sulit mengelola sumber daya manusia (SDM). Ada strategi khusus menanganinya.

Bekerja di perusahaan beken lagi bonafide tidak serta-merta membuat Ganesh Pamugar Satyagraha menikmati kenyamanan dan kepuasan dalam berkarya. Country Head Crop Protection PT BASF Distribution Indonesia ini merasa ada potensi yang belum tergali secara optimal. Apa yang dicari pria yang merintis karier sebagai ekonom Asian Development Bank (ADB) itu? Telusuri kisahnya bersama AGRINA.

Menyentuh Masyarakat

Bekerja bukan sekadar menghasilkan sejumlah uang. Menurut Ganesh, bekerja berarti berkarya, mewariskan peninggalan bermanfaat bagi diri, masyarakat, dan lingkungan. Sarjana Ekonomi lulusan Universitas Padjadjaran ini lantas mendedikasikan diri di ADB pada Juni 1999 dan melakukan analisis sosial dan perubahan ekonomi di Indonesia Timur.

Seiring waktu, ia merasa ada sesuatu yang kurang. “Saya nggak bisa all out (penuh semangat). Kalau nggak all out, hasil kerjanya juga kurang maksimal,” jelasnya. Ganesh berpikir, kiprahnya tak langsung menyentuh masyarakat karena di luar sistem. “Di Indonesia yang mengambil kebijakan itu Bappenas, kepala daerah. Kita cuma bisa kasih rekomendasi yang belum tentu diaplikasikan,” urainya.

Dia pun memutuskan berhenti dari ADB dan memulai karier sebagai salesman di distributor barang konsumsi terkemuka. “Saya keliling Jakarta bawa motor boks. Saya drop ke kios-kios kecil di pinggir jalan dan uang makan di ADB itu sama dengan gaji penuh di sales plus insentif,” paparnya terbahak.

Tak pelak cemooh menghampiri sebab keputusan meninggalkan profesi bergengsi dan diminati banyak orang. Ganesh menuturkan, “Awalnya teman-teman bilang, Nesh, percuma elu mau jualan 100 boks, insentifnya tetap Rp400 ribu. Saya bilang: ‘Ya nggak apa. Saya cuma mau buktiin teori saya bener nggak.’ Itu pembelajaran yang saya dapat.”

Bahkan, kiprah di BASF pun ia arahkan untuk membantu petani padi agar terbebas dari serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan menaikkan panen. Ini salah satu kontribusinya dalam mendukung Indonesia mencapai swasembada pangan. “Itu lebih ada artinya daripada sejumlah angka (target penjualan),” cetusnya.

Sebagai salesman, pria kelahiran Jakarta, 28 Oktober 1977 ini memiliki strategi khusus. Ia membuat peta jalan (road map) penjualan berdasarkan komposisi penduduk. “Saya ke BPS minta map (peta), termasuk kelurahan ini isinya berapa orang, usia berapa. Sudah saya petakan semua di rumah, saya bikin road map,” katanya. Karena strategi tersebut, ia berhasil memenuhi target sebulan dalam 10 hari.

Pihak manajemen memperhatikan dan mengangkatnya menjadi kepala cabang. Posisi ini diraih dalam waktu 8 bulan. Dua bulan kemudian Master bidang Ekonomi dan Pembangunan Internasional dari Universitas Indonesia ini mengikuti tes sebagai pengawas. Mendengar pemaparan Ganesh, manajemen malah menetapkannya sebagai area sales manager. Bahkan, ia dipercaya membuat standar nasional prosedur penjualan.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 292 yang terbit Oktober 2018. Atau, klik : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/browse?search=agrina, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

Kiprah Balittra Membangunkan Singa Tidur

Mulai tahun 2018 ini Kementerian Pertanian akan mengembangkan dan memanfaatkan satu hektar lahan rawa baru untuk pertanian di sembilan provinsi.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menganalogikan lahan rawa (pasang surut dan lebak) kita bagaikan singa tidur. “Potensinya sangat besar, tetapi pemanfaatannya masih minimal. Makanya disebut singa tidur,” kata Dedi Nursyamsi, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Balitbangtan, Kementerian Pertanian, di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat, 5 Oktober 2018.

Bayangkan. Luas lahan rawa di Indonesia sekitar 34,1 juta ha. Dari luas itu, yang cocok untuk lahan pertanian sekitar 10 juta ha. “Yang baru dimanfaatkan sekitar 1,5 juta ha. Masih banyak lahan rawa yang belum dimanfaatkan,” kata profesor riset itu kepada AGRINA.

Saat ini, lahan rawa yang digunakan untuk tanam padi sekitar 1,2 juta ha. Produktivitasnya baru sekitar 3,3 ton gabah kering giling (GKG)/ha dengan indeks pertanaman (IP) sekitar 1,2. Dengan bantuan teknologi, produktivitas padi rawa dapat ditingkatkan menjadi sekitar 6,6 ton GKG/ha. Dengan demikian, dari lahan yang ada bisa dipanen sekitar 9,5 juta ton GKG/tahun.

Karena itulah mulai 2018 ini Menteri Pertanian Amran Sulaiman akan menggarap dan mengembangkan sejuta ha lahan rawa di 9 provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur (termasuk Kalimantan Utara), Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Papua, dan Papua Barat. Rencananya program ini dilakukan dalam waktu 3-5 tahun.

Lahan rawa pasang surut itu mempunyai sulfat masam, masam (pH rendah), ada lapisan pirit, kahat (kekurangan) hara, salinitas (mengandung kadar garam), produktivitas rendah, dan perlu drainase serta tata kelola air. Pada lahan rawa lebak (dangkal, tengahan, dalam) terjadi genangan air lebih dari 4 bulan dan tingkat kesuburannya sedang karena mendapat limpahan hara dari luapan sungai.

Pancakelola Lahan Rawa

Untuk memanfaatkan dan mengembangkan lahan rawa, menurut Hendri Sosiawan, pemerintah menerapkan pancakelola lahan rawa, yaitu pengelolaan air, pengelolaan lahan, ameliorasi, pemupukan, dan tanaman toleran lahan rawa. “Balittra itu mempunyai tugas untuk menghasilkan teknologi pengelolaan lahan rawa,” kata Kepala Balittra itu di Banjarbaru, Jumat, 5 Oktober lalu.

Dalam hal pengelolaan air, menggunakan filosofi orang Banjar, yaitu aliran air satu arah, ada masukan (air bersih) dan ada keluaran (air kotor). Hal ini dilakukan dengan sistem handil (airnya dibelok-belokkan) atau sistem tabat (bendungan dan pengaturan pintu). “Kuncinya sistem air satu arah. Selain untuk memenuhi kebutuhan air, juga mencegah teroksidasinya pirit,” tambah Dedi.

Kalau pirit (FeS) teroksidasi, akan menghasilkan sulfat sehingga pH tanah menjadi rendah, sekitar 3 dan 3,5. Pada pH seperti itu semua tanaman akan mati, kecuali yang toleran kondisi keasaman tersebut. Misalnya, Inpara (Inbrida Padi Rawa), yang dihasilkan BB Padi, Balitbangtan, Kementerian Pertanian. “Inpara itu toleran terhadap kondisi seperti itu,” kata alumnus IPB itu.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 292 yang terbit Oktober 2018. Atau, klik : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/browse?search=agrina, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

Sejahterakan Petani dengan Mengedukasi Pengecer Saprotan

Dengan meningkatkan kemampuan pengecer saprotan dalam mengelola bisnis dan melayani pelanggannya, petani diharapkan mendapat pelayanan yang lebih baik sehingga menghasilkan produksi lebih tinggi.

Petani kecil di Asia Pasifik dan Afrika yang jumlahnya jutaan orang ikut berkontribusi menyediakan pangan bagi masyarakat dunia. Agar sejahtera, mereka perlu mengadopsi teknologi terbaru yang bisa meningkatkan produktivitas tanamannya.

“Syngenta membelanjakan Rp50 miliar per hari untuk riset sehingga menghasilkan teknologi baru yang dapat meningkatkan produktivitas. Kami juga mengupayakan teknologi baru itu sampai ke petani,” ungkap Parveen Kathuria, Presiden Direktur PT Syngenta Indonesia dalam acara jumpa media di Jakarta beberapa waktu lalu.

Namun, untuk menyampaikan teknologi terbaru itu kepada 20 jutaan petani di Indonesia secara langsung, butuh usaha yang luar biasa. Karena itu, perusahaan pestisida dan benih tersebut meminjam tangan para pengecer sarana produksi tanaman (saprotan) berskala kecil dan menengah yang sehari-hari berhubungan dengan petani. Berkolaborasi dengan International Finance Corporation (IFC), anak usaha Bank Dunia, meluncurkan Program Syngenta PartnerGrow Academy.

 “Kami membantu melalui dua cara, yaitu berinvestasi ke perusahaan berintegritas yang satu visi dengan kami tentang pertanian dan petani kecil. Misalnya, perusahaan yang menjual benih, menyediakan infrastruktur, atau yang membeli produk dari petani. Cara lainnya melalui advisory program yang membantu petani kecil dengan pelatihan kapasitas kelembagaan, memberikan akses yang lebih baik terhadap bahan yang mereka butuhkan, perencanaan bisnis dan program seperti PartnerGrow Academy Syngenta,” tutur Ernest Bethe, Principle Operation Officer IFC pada kesempatan yang sama.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 292 yang terbit Oktober 2018. Atau, klik : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/browse?search=agrina, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

Makan Telur, Siapa Takut?

Oleh: Tony Unandar, Anggota Dewan Pakar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI)

Tidak ada korelasi positif antara kegemaran makan telur ayam dengan peluang mendapatkan serangan jantung.  Penelitian ilmiah secara intensif yang berakhir 1996 oleh Harvard School of Public Health, Amerika Serikat telah membuktikan hal tersebut.

Telur Ayam dan Nilai Nutrisi

Ayam memproduksi telur untuk kelangsungan keturunannya. Agar embrio di dalamnya dapat berkembang dengan baik, telur tersebut harus mengandung komponen nutrisi lengkap dan seimbang sesuai kebutuhan embrio. Namun dengan adanya intensifikasi dan efisiensi peternakan ayam modern selama tiga dekade terakhir, telur konsumsi kebanyakan berasal dari ayam petelur modern yang tidak dibuahi.

Andai kata telur tidak mengandung kolesterol, tidak akan ada kontroversi antara konsumsi telur dengan kesehatan manusia. Menurut National Academy of Sciences (NAS) – Amerika, sebutir telur ayam ras yang besar mengandung kira-kira 215 mg kolesterol atau duapertiga dari total kebutuhan kolesterol manusia dewasa per hari, yaitu sekitar 300 mg.

Tiap butir telur mengandung sekitar 6 g protein dan 5 g senyawa lemak.  Kira-kira 50% dari total protein telur terdapat dalam albumin (putih telur). Sedangkan senyawa lemak terdapat dalam kuning telur dengan komposisi lemak tidak jenuh lebih dari 50%. Protein telur merupakan protein ideal bagi manusia karena terdiri dari asam-asam amino esensial yang seimbang.

Selain itu, telur juga mengandung zat besi (Fe), riboflavin, asam folat, vitamin B12, D, dan E.  Mirip pada daging, zat besi yang terkandung dalam kuning telur terbukti mempunyai bioaviabilitas yang tinggi. Dengan demikian telur merupakan asupan penting bagi anak yang sedang bertumbuh. Kendati tidak mengandung vitamin C, telur kaya akan vitamin D.

Kolin (choline) merupakan suatu substansi nutrisi yang sangat penting bagi perkembangan fungsi kognitif (kesadaran dan pengertian) dari jaringan otak (Hasler, 2000). Kolin juga ditemukan dalam susu, hati, dan kacang-kacangan.  Secara alamiah, tubuh manusia mampu membentuk kolin sendiri, tetapi jumlahnya tidak mencukupi. Menurut NAS, seorang laki-laki dewasa membutuhkan asupan kolin sebanyak 550 mg/hari, sedangkan wanita dewasa sebanyak 425 mg/hari.  Sebutir telur ayam mengandung paling tidak 280 mg kolin. Ini berarti memenuhi lebih dari separuh kebutuhan kolin bagi laki-laki dan wanita dewasa.

Telur Ayam dan Konsep Kepadatan Nutrisi

Telur ayam termasuk bahan pangan yang padat nutrisi. Secara substansial, telur ayam mengandung komponen nutrisi yang sangat bervariasi (lihat Tabel 1).  Tiap butir telur ayam berukuran besar (+60 g) mengandung 4% dari total kebutuhan kalori seseorang yang mengonsumsi 2.000 kalori per hari.

Sebutir telur ayam juga paling tidak memberikan kontribusi 4% dari kebutuhan manusia dewasa per hari dalam hal protein, riboflavin, vitamin A, vitamin B6, vitamin B12, asam folat, zat besi, fosfor, dan seng.

Hasil survei Departemen Kesehatan Amerika pada 2002 menunjukkan, orang yang mengonsumsi telur ayam rata-rata mempunyai tingkat kecukupan dan kelengkapan nutrisi lebih tinggi dibandingkan yang tidak mengonsumsi telur ayam.  Karena telur ayam tidak mengandung vitamin C, maka sangat dianjurkan, selain makan telur ayam juga mengonsumsi jus buah atau buah-buahan segar secara bersamaan.

Kelanjutan tentang tulisan ini baca di Majalah AGRINA versi Cetak volume 14 Edisi No. 292 yang terbit Oktober 2018. Atau, klik : https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/agrinahttps://higoapps.com/browse?search=agrina, https://www.mahoni.com, dan https://www.magzter.com/ID/PT.-Permata-Wacana-Lestari/Agrina/Business/

Inspirasi dan Peluang Agribisnis Indonesia

Create your website at WordPress.com
Get started